September 20, 2022

Sesungguhnya Bersama Kesulitan Ada Kemudahan

Responsive image

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

 

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً- إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً

 

“Karena sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan,-Sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al Insyirah: 5-6)

 

Syaikh As Sa’di dalam Taisirul Karimir Rahman menjelaskan, bahwa pada ayat di atas terdapat kabar gembira yang besar, yaitu setiap kali ada kesulitan dan kesusahan, maka kemudahan akan datang menemaninya dan bersama dengannya, bahkan kalau sekiranya kesulitan masuk ke lubang dhab (hewan kecil seperti biawak), maka kemudahan juga akan masuk ke dalamnya dan membukanya. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,

 

سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا

 

“Allah kelak akan memberikan kelapangan setelah kesempitan.” (QS. Ath Thalaq: 7)

 

Juga sebagaimana yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

 

وَأَنَّ الْفَرْجَ مَعَ الْكَرْبِ وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً

 

“Kelonggaran bersama penderitaan dan di balik kesulitan ada kemudahan.” (HR. Tirmidzi).”

 

Syaikh As Sa’diy juga menjelaskan, bahwa digunakan bentuk ma’rifat (bentuk khusus) dengan tambahan alif dan lam pada kata ‘usr’ di dua ayat tersebut menunjukkan menyeluruh dan umum, dimana hal ini menunjukkan, bahwa semua bentuk kesulitan meskipun besar, namun di akhirnya adalah kemudahan yang menyertainya.

 

Dalam Shahih Bukhari dari Ibnu Abbas disebutkan, bagaimana Hajar dan putranya Ismail ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dengan hanya dibekali sekantung kurma dan geriba berisi air. 

 

Kemudian air yang ada di geriba habis hingga mereka berdua merasakan kehausan yang sangat, padahal ketika itu Mekkah tidak berpenghuni dan tidak ada air. 

 

Lalu Hajar memandang Isma’il sang bayi yang sedang meronta-ronta,” Kemudian Hajar pergi meninggalkan Ismail dan tidak kuat melihat keadaannya. 

 

Maka dia mendatangi bukit Shafaa sebagai bukit yang paling dekat dengannya. 

 

Dia berdiri di sana lalu menghadap ke arah lembah dengan harapan dapat melihat orang di sana namun dia tidak melihat seorang pun. 

 

Maka dia turun dari bukit Shafa dan ketika sampai di lembah dia menyingsingkan ujung pakaiannya dan berusaha keras layaknya seorang yang berjuang keras. 

 

Sehingga dia dapat melewati lembah dan sampai di bukit Marwah, lalu berdiri di sana sambil melihat-lihat, apakah ada orang di sana, namun dia tidak melihat ada seorang pun. 

 

Dia melakukan hal itu sebanyak tujuh kali (antara bukit Shafa dan Marwah). 

 

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Oleh karena itu, manusia melakukan sa’i antara kedua bukit itu.” 

 

Ketika berada di puncak Marwah, Hajar mendengar ada suara malaikat Jibril ‘alaihissalam yang berada di dekat zamzam, lantas Jibril mengais air dengan tumitnya atau dengan sayapnya sehingga air keluar memancar. Akhirnya dia dapat minum air dan menyusui anaknya kembali. 

 

Kemudian malaikat berkata kepadanya, “Janganlah kamu takut ditelantarkan! Karena di sini ada rumah Allah yang akan dibangun oleh anak ini dan ayahnya, dan sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya.”