FANI’MA AJRUL AAMILIIN

Lafazh “āmilīn” di dalam Al-Quran disebutkan sebanyak empat kali; yaitu: Surah Ali Imran: 136, Surah At-Taubah: 60, Surah al-Ankabut: 58 dan Surah Az-Zumar: 74. Tiga ayat di antaranya menyebut ungkapan yang sama yaitu: “fa ni’ma ajrul āmilīn” (sebaik-baik pahala orang yang beramal). 

Ketiga ayat ini berkenaan dengan balasan kemuliaan yang Allah berikan kepada orang-orang yang sudah berbuat baik (beramal shalih). 

Sedangkan di ayat 60 Surah at-Taubah lafazh “āmilīn” diartikan sebagai orang yang menjadi penghimpun dan sekaligus distributor harta zakat.

 

Kesamaan kata “āmilīn” memang tidak berarti bahwa semua amil zakat itu yang dimaksud di tiga ayat lainnya. 

Namun, tentu kecocokan atau kesamaan redaksi ini hanyalah sebuah kebetulan belaka. Karena penghimpun dan distributor zakat disebut sebagai “āmilīn” adalah karena spirit kerja atau amal itu sendiri. 

Berbagai literatur menyebut kompleksitas kerja ini menyatu dalam istilah “āmilīn” yang mencakup semua yang terlibat di dalamnya, yaitu: orang yang menghimpun zakat (sā’iy) atau (hāsyir), orang yang mencatatnya (kātib), penanggungjawab dan pelaksana distribusi (qāsim), akuntan (hāsib) dan bendahara (hāfizh al-māl) bahkan termasuk penjaga keamanan/security (jundiy).

 

Istilah-istilah tersebut terdapat dalam beberapa khazanah literatur fikih klasik atau semi-modern. Adapun di era seperti sekarang ini tentu rangkaian kegiatan amilin semakin berkembang. 

Era disrupsi saat ini yang semakin sulit ditebak tentu memerlukan kreator dan inovator, baik dalam promosi program pemberdayaan untuk semakin menarik minat para donatur dan muzakki.

 

Tentu saja, kerja-kerja tersebut tidak berhenti pada tersedianya SDM yang memadai, namun diperlukan yang lebih lagi seperti pembekalan dan pelatihan peningkatan capacity building amilin untuk menambah imunitas keimanan mereka agar terjaga kekuatan spiritual dan kejujuran juga diharapkan mampu berinovasi dalam berbagai program pemberdayaan dan pengentasan kemiskinan.

 

Kerja-kerja amilin ini tentunya adalah kerja yang berporos pada nilai spirit kerja kolegial dan kemanfaatan (kontributif). 

Targetnya adalah menghilangkan gap-gap sosial dan mengikis atau bahkan menghilangkan kemiskinan dan ketidakberdayaan di sektor ekonomi dan sosial.

 

Tuntutan profesionalisme amilin sesungguhnya sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw, ketika beliau menunjuk para sahabatnya yang memiliki kompetensi sebagai amil, baik secara karakter dan akhlaknya maupun kecakapan skil/profesi menghitungnya. Kompetensi amilin secara umum ada tiga:

  1. Kompetensi keilmuan dan wawasan, ini terkait dengan pembekalan keilmuan dan wawasan bagi setiap amil
  2. Kompetensi kepribadian (akhlak dan karakter), ini terkait dengan kegiatan yang dibuat untuk menjaga stabilitas spiritual (ruhiyah) yang membina kokohnya akhlakul karimah.
  3. Kompetensi metodologis, ini dikaitkan dengan kreativitas dan inovasi tentang program kerja yang bagus untuk pemberdayaan dan pengentasan kemiskinan serta ketidakberdayaan sektor ekonomi dan sosial.

Karena itulah Baitul Mal dengan berbagai istilah sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw mengutus para sahabatnya untuk mengkoordinir pengumpulan dan distribusi zakat. Amilin, adalah tokoh-tokoh yang berada di balik lembaga ini.

Success story Umar bin Abdul Aziz yang berhasil menihilkan angka mustahiq di Madinah adalah kerja kolektif bersama para amilin melakukan gerakan pemberdayaan pemuda dan pasangan muda. 

Para sejarah mencatat di era tersebut distribusi zakat penduduk Madinah dilakukan di luar kota, karena seluruh penduduk kota Madinah sudah tak ada yang berstatus sebagai mustahiq; semuanya telah berstatus sebagai muzakki. Subhanallah. Semua menikmati kerja keras bersama melawan kemiskinan dan terus melakukan pemberdayaan SDM yang efektif.

Itulah “fa ni’ma ajrul āmilīn” di dunia, dengan terciptanya lingkungan yang semuanya menjadi muzakki, sukses menggabungkan kesejahteraan materi dan kesejahteraan spiritual. 

Hal ini sangat berpotensi menjadi pengantar terciptanya firman Allah “fa ni’ma ajrul āmilīn” di surga-Nya. Allahumma aamiin.

 

(Oleh: KH. Saiful Bahri, Lc, MA)

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    KEUTAMAAN SEPULUH HARI BULAN DZULHIJJAH

    Allah melebihkan seseorang dari orang lainnya, memuliakannya dan mengangkat derajatnya. Allah juga memilih tempat beberapa Istimewa melebihi yang lainnya, seperti dua tanah haram dan negeri Palestina yang diberkahi. Allah juga [...]
    Baca
    Tentang Kami
    Yayasan Kesejahteraan Madani (YAKESMA) didirikan pada 4 juli 2011, sebagai sebuah lembaga amil zakat yang berfokus pada kesejahteraan masyarakat dan mereka yang telah berjasa dalam pengajaran pendidikan keterampilan pemberdayaan dan dakwah di masyarakat.
    Kontak Yakesma
    Jalan Teluk Jakarta No.9
    Komp. AL Rawa Bambu, Pasar Minggu,
    Jakarta Selatan 12520
    Telp: (021) 22 789 677 | WA. 0822 7333 3477
    Email: welcome@yakesma.org
    Sosial Media
    2023 - Yayasan Kesejahteraan Madani