YAKESMA GELAR PELATIHAN TANGGAP BENCANA GEMPA BUMI BERSAMA SDIT IQRO


Akhir akhir ini, bermacam jenis bencana singgah di Tanah Air. Mulai dari gempabumi, banjir bandang, gunung meletus, puting beliung, tanah longsor, hingga tsunami yang melanda Palu dan Donggala beberapa waktu lalu. Bencana alam tak mungkin terelakan dari setiap Negara, terutama Negara Indonesia. Karena Indonesia bagian dari kepulauan yang secara geografis terletak di antara tiga lempeng besar (Eurasia, Indoaustralia, dan Pasifik), negeri ini rentan akan bencana alam. Selain itu, Indonesia juga masuk dalam zona ring of fire sehingga kemungkinan bencana bisa saja terjadi. Semua faktor itu tentunya mengakrabkan negara ini dengan berbagai kemungkinan bencana yang ada, di mana masyarakat perlu lebih bersahabat dengan alam.

Menjadi hal yang baik jika kalangan anak-anak Indonesia sudah mengenal dan memahami pengetahuan kesiapsiagaan tentang bencana. Dengan demikian, diharapkan terjadi pengurangan risiko munculnya bencana, atau reaksi yang tepat saat ada musibah.

Jumat, 26 Oktober 2018, Yakesma mengadakan pelatihan tanggap bencana Gempa Bumi di SDIT IQRO, Pondok Gede Bekasi. Peserta pelatihan tanggap bencana ini terdiri dari guru dan karyawan serta seluruh siswa siswi SDIT IQRO. Pelatihan tanggap bencana ini di isi oleh Pak Deni, beliau adalah seorang guru dan juga tim siaga kemanusiaan korsad keadilan.

Kegiatan diawali dengan memberikan briefing teknikal aktivitas penyelamatan pada saat gempa kepada semua guru dan karyawan, kemudian dilanjutkan dengan penyampaian teori simulasi gempa bumi kepada siswa. Para siswa siswi diajak belajar memahami potensi bencana, jenis bencana, hingga cara meresponsnya. Para siswa siswi dikenalkan dengan potensi bencana di sekitarnya juga informasi untuk mencegahnya. Kemudian ditutup dengan simulasi gempa dan evakuasi  korban gempabumi.

Pak Deni juga menjelaskan bahwa pada saat situasi sulit nanti, gunakan semua barang yang ada dalam jangkauan untuk menolong diri sendiri. Misalnya sarung, mukenah, ataupun sajadah. Jika terjadi gempa bumi saat berada di ruang kelas,  segera lindungi kepala dengan kedua lengan dan dagu menyentuh dada kemudian posisikan badan serendah mungkin. Cari tempat berlindung seperti meja agar terhindar dari reruntuhan. Bila gempa sudah berhenti, segera lari keluar ruangan untuk menghindari gempa susulan. Jika masih memungkinkan, para guru / karyawan hendaknya matikan meteran listrik, ambil tas siaga, lalu keluar mencari lokasi pertemuan darurat.

Vina (9) yang ikut dalam kegiatan tersebut mengaku sangat senang bisa ikut langsung dalam pelatihan ini. Karena sebelumnya dirinya belum pernah mengikuti dan tau bahaya bencana alam yang akan menimpa dirinya / teman temannya. “Aku belum pernah mengalami gempa bumi, tapi belajar kalau ada gempa harus berlindung di bawah meja. Dan aku bisa kasih tau ini ke ibu dan kakaku kalau mereka sedang dirumah” katanya.