May 9, 2019

Andai Ini Ramadhan Terakhir

Responsive image

….”Andai Ini Ramadhan Terakhir?”….

Kalimat yang memandang bulan Ramadhan sebagai sesuatu yang istimewa. Jika kita bandingkan dengan momen penting dalam kehidupan. Misal waktu pernikahan, kita akan menghitung hari demi hari sembari mempersiapkan keperluannya. Semakin dekat, semakin berdebarlah hati kita.

Momen terakhir itu seperti kita akan berangkat ke suatu daerah menggunakan pesawat dengan penerbangan terakhir. Bukankah kita tidak akan melewatinya walau hanya sebentar. Momentum itu menjadi sangat berharga. Jika terhadap setiap momen penting keduniaan ada getaran dalam hati untuk tidak melewatkannya. Maka sejauh mana kita memiliki getaran menghadapi Ramadhan. Apakah kita sudah menumbuhkan perasaan itu?

Siapa yang memandang berharga bulan Ramadhan? Jawabnya ialah Ahli kubur, Jelas Ust. Deka di tarhib Ramadhan Yakesma. Seolah-olah mereka berkata “berikan aku Ramadhan walaupun hanya satu detik. Karena setiap detik dibulan Ramadhan sangat berharga bagi mereka untuk memohon ampunan”. Ramadhan, menjadi momen penting untuk sedikit pun tidak dilewatkan dengan sia-sia.

Andaikan ini Ramadhan terakhirku seharusnya dijawab dengan kalimat komitmen. Pertama, pasti akan gigih bertaubat karena romadhan adalah momentum pengampunan. Seberapa penting ampunan bagi kita. Kita bisa belajar dari seorang narapida yang menantikan 17 Agustus. Pada tanggal tersebut untuk narapidana tertentu bisa mendapatkan remisi, pengurangan masa kurungan. Mereka menginginkan remisi karena sudah tidak betah menjalankan hukuman penjara. Manusia menajalani hukum dunia saja sudah tidak kuat, apa yang terjadi jika hukuman neraka yang harus dijalani.

“Setiap kali mereka hendak keluar darinya (neraka) karena tersiksa, mereka dikembalikan (lagi) ke dalamnya, (kepada mereka dikatakan). Rasakanlah azab yang membakar ini!” (QS. Al Ahzab : 23)

Ketakutan akan siksa Allah seharusnya menghadirkan semangat membutuhkan ampunan. Dalam Al-Qur’an digambarkan bagaimana para penghuni neraka tidak bisa lari dari hukuman yang kekal. Dengan siksaan yang teramat pedih, sepatutnya hadir kesadaran untuk kita bertaubat.

“Dan datanglah Tuhanmu, dan malaikat berbaris-baris. Dan pada hari itu diperlihatkan kepada mereka Jahannam, pada hari itu sadarlah manusia, tapi tidak berguna lagi kesadaran itu. Dia berkata, “Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku mengerjakan (kebajikan) untuk hidupku ini.” (QS. Al Fajr 23)

Orang yang cerdas ialah yang sadar akan banyaknya dosa dan bertaubat kepada Allah SWT. Karena jika kesadaran ini baru dirasakan pada hari pembalasan maka tidak berguna lagi kesadaran tersebut. Tetapi, banyak manusia yang ternyata tidak sadar mereka telah berbuat zalim. Kebanyakan dari mereka merasa apa yang mereka perbuat telah benar. Sedangkan, seorang nabi, Adam AS. merintih memohon ampunanan Allah.

Kesadaran untuk menghadirkan rasa takut ini perlu dilakukan agar kita membutuhkan ampunan. Alhasil, di momen Ramadhan kita akan memiliki keigigihan untuk bertaubat.

“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.” (HR. Bukhari)

Sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas, di bulan mulia ini amalan kebaikan akan dilipatgandakan. Inilah kesempatan untuk memperbanyak amalan kebaikan. Banyak sekali amalan kebaikan yang bisa dilakukan, peluang untuk melipatgandakan pahala pun terbuka lebar. Amal yang terlihat biasa, di bulan Ramadhan bisa jadi lumbung amal.

Bersedekah di bulan ramadhan sangat dianjurkan, apalagi memberi makan orang yang berbuka puasa, kita bisa dapat pahala puasa orang tersebut. Melaksankan sahur pun juga ada pahalanya. Membaca al Quran dan memahaminya dapat melipatgandakan pundi-pundi pahala, tak terhitung jika kita bisa khatam berulang kali. Karena balasan untuk bacaan quran hitungannya perhuruf. Belum ditambah amalan-amalan ibadah yang diperintahkan di sepuluh hari terakhir, seperti menghidupkan malam dengan ibadah, melaksanakan i’tikaf, dan menunaikan zakat. Dan masih banyak amalan-amalan lain yang bisa dilakukan di bulan Ramadhan.

Baca juga: Yakesma Luncurkan Program Ramadhan “Bersyukur Dengan Zakat”.